The Ring of Gyges

apakah manusia tetap akan jadi baik jika mereka tidak bisa terlihat atau dihukum

The Ring of Gyges
I

Bayangkan skenario ini. Kita sedang jalan kaki sendirian di malam hari, lalu menemukan sebuah cincin emas kuno tergeletak di tanah. Penasaran, kita mengambilnya dan memasukannya ke jari telunjuk. Tiba-tiba, tubuh kita menghilang. Kita jadi sama sekali tidak kasatmata. Pertanyaannya, apa yang akan kita lakukan malam itu? Mungkin ada yang berpikir untuk diam-diam mengambil uang di bank, membalas dendam pada bos yang menyebalkan, atau sekadar menyusup ke pesawat untuk liburan gratis. Tanpa CCTV, tanpa polisi, tanpa ada yang tahu. Pernahkah kita benar-benar merenungkan hal ini? Apakah kita akan tetap menjadi orang baik, jika kita tahu kita tidak akan pernah ditangkap atau dihukum?

II

Dilema liar ini sebenarnya bukan hal yang baru. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, filsuf Yunani bernama Plato sudah mengajak murid-muridnya memikirkan hal yang persis sama. Dalam karyanya yang terkenal, The Republic, Plato menceritakan sebuah mitos kuno yang kini dikenal dengan nama The Ring of Gyges. Gyges adalah seorang gembala biasa yang jujur. Suatu hari, gempa bumi membuka celah rahasia di tanah. Di dalamnya, Gyges menemukan mayat raksasa yang memakai cincin emas. Saat ia memakai cincin itu, ia menyadari satu kekuatan yang mengerikan: ia bisa menghilang kapan saja ia mau. Dan tebak apa yang dilakukan si gembala lugu ini? Ia masuk ke istana, merayu sang ratu, membunuh raja, dan mengambil alih kekuasaan mutlak. Kisah Gyges memunculkan sebuah asumsi yang sangat pesimistis tentang manusia. Bahwa pada dasarnya, kita ini egois. Kita bertindak baik hanya karena takut ketahuan, takut dinilai buruk, dan takut dipenjara. Begitu ancaman hukuman itu dicabut, topeng moralitas kita akan langsung terlepas.

III

Kalau dipikir-pikir, gagasan Plato ini terasa sangat masuk akal, apalagi di era modern ini. Kita sebenarnya bisa melihat versi nyata dari "cincin tak kasatmata" itu setiap hari. Namanya: internet. Saat seseorang berlindung di balik akun anonim tanpa foto profil, mereka sering kali bisa mengetik kalimat paling jahat yang tidak akan pernah berani mereka ucapkan secara langsung. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini disebut sebagai efek deindividuation. Saat identitas kita kabur atau melebur dalam kerumunan, tanggung jawab moral kita ikut luntur. Otak kita merasa kebal. Jadi, apakah ini bukti mutlak bahwa manusia pada dasarnya adalah monster yang sedang sabar menunggu rantainya dilepas? Apakah semua kebaikan yang kita lakukan hari ini—seperti menolong orang di jalan atau antre dengan tertib—hanyalah sebuah kepalsuan sosial belaka? Tahan dulu. Sebelum kita sepenuhnya kehilangan harapan pada umat manusia, ada sebuah rahasia besar yang disembunyikan oleh tubuh kita sendiri. Dan jawabannya bukan ada di buku-buku filsafat kuno, melainkan di dalam struktur basah otak kita.

IV

Di sinilah hard science mengambil alih panggung. Selama beberapa dekade terakhir, para ahli saraf (neuroscientist) dan psikolog evolusioner mempelajari cara kerja otak manusia saat dihadapkan pada pilihan moral. Fakta yang mereka temukan ternyata sangat melegakan. Evolusi tidak mendesain manusia untuk menjadi pembunuh berdarah dingin yang mementingkan diri sendiri. Sebaliknya, otak kita dirancang secara biologis untuk peduli. Di dalam otak kita, terdapat kelompok sel luar biasa yang disebut mirror neurons atau neuron cermin. Sel-sel inilah yang membuat kita tanpa sadar ikut meringis saat melihat orang lain tersandung, atau ikut tersenyum saat melihat bayi tertawa. Kita secara harfiah diprogram untuk bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Empati itu bukan sekadar konsep moral, empati itu reaksi saraf. Lebih dari itu, setiap kali kita melakukan kebaikan yang tulus, otak kita melepaskan oxytocin dan dopamine. Ini adalah "hormon cinta dan penghargaan" yang membuat kita merasa damai, aman, dan terhubung. Dari sudut pandang evolusi, ini sangat logis. Nenek moyang kita tidak punya cakar yang tajam atau kulit sekeras badak. Satu-satunya cara spesies manusia bisa bertahan hidup dari kerasnya alam liar adalah dengan bekerja sama. Kerja sama mutlak membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan tidak akan pernah bisa tumbuh kalau kita selalu menikam satu sama lain dari belakang setiap kali tidak ada yang melihat. Dorongan untuk menjadi baik itu bukan sekadar produk aturan hukum atau norma sosial. Kebaikan adalah insting bertahan hidup tingkat tinggi yang sudah terukir permanen di dalam DNA kita.

V

Tentu saja, kita tidak bisa naif. Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Di dalam diri kita selalu ada tarik-ulur yang konstan antara sisi egois demi keuntungan pribadi, dan sisi altruistik demi kebaikan bersama. Kalau kita menemukan The Ring of Gyges, mungkin saja kita akan iseng sedikit. Mungkin kita akan menguping pembicaraan rahasia teman kita, atau mencicipi makanan di supermarket tanpa bayar. Namun, apakah kita akan otomatis berubah menjadi psikopat yang kejam? Sains dengan tegas mengatakan: kemungkinan besar tidak. Kita tetap tidak akan tega menyakiti orang yang tidak bersalah, karena saat kita menyakiti mereka, biologi tubuh kita akan balik menghukum kita dengan rasa bersalah yang mencekik. Cincin yang bisa membuat kita menghilang sebenarnya tidak mengubah siapa kita. Cincin itu hanya berfungsi sebagai kaca pembesar bagi karakter kita yang paling murni. Pada akhirnya, menjadi baik adalah sebuah pilihan sadar yang kita buat setiap hari, baik saat kita diawasi maupun tidak. Dan mungkin, bukti kebaikan sejati kemanusiaan justru terletak pada hal-hal kecil yang kita lakukan ketika kita tahu, tidak akan ada satu orang pun yang akan memberikan kita tepuk tangan.